Perkembangan teknologi digital telah mendorong transformasi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk cara kita bertransaksi. Salah satu inovasi penting di bidang pembayaran adalah penggunaan kode QR (Quick Response) sebagai metode pembayaran yang cepat, praktis, dan aman. Namun, di balik kemudahan itu, seringkali muncul kebingungan antara QRIS dan QR Code Payment. Meski tampak serupa, kedua istilah ini menyimpan perbedaan mendasar baik dari segi sistem, tujuan, hingga penggunaannya di lapangan. Untuk memahami lebih dalam, mari kita telusuri perbandingan lengkap antara QRIS dan QR Code Payment berikut ini.
Apa Itu QRIS?
QRIS, atau Quick Response Code Indonesian Standard, adalah standar pembayaran menggunakan QR Code yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. QRIS resmi diperkenalkan pada Agustus 2019 dan diwajibkan berlaku nasional mulai 1 Januari 2020. Tujuan utama pengembangan QRIS adalah untuk menyatukan semua sistem pembayaran berbasis QR code yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri di Indonesia.
Sebelum adanya QRIS, merchant atau pelaku usaha perlu menyediakan QR code dari berbagai aplikasi berbeda seperti OVO, DANA, GoPay, dan lainnya. Hal ini tidak praktis dan membingungkan, terutama bagi pelaku usaha kecil. Dengan QRIS, cukup satu QR code saja yang bisa digunakan oleh berbagai penyedia jasa pembayaran (PJP) yang telah terdaftar di Bank Indonesia.
QRIS hadir sebagai bentuk infrastruktur keuangan digital inklusif, memungkinkan siapa pun termasuk pelaku UMKM, pedagang kaki lima, dan donatur lembaga sosial mengakses sistem pembayaran non-tunai dengan mudah dan hemat biaya.
Apa Itu QR Code Payment?
Sementara QRIS merupakan standar nasional, istilah QR Code Payment lebih umum dan merujuk pada segala bentuk pembayaran yang menggunakan QR Code sebagai media transaksi, baik yang menggunakan sistem terbuka maupun tertutup.
Contoh QR Code Payment non-QRIS misalnya:
- QR Code di aplikasi ShopeePay yang hanya bisa dipindai oleh pengguna ShopeePay.
- QR Code milik Alipay di merchant internasional yang hanya dapat digunakan oleh pengguna Alipay.
- Kode QR dari sistem internal perusahaan, seperti diskon karyawan atau loyalty point.
QR Code Payment banyak digunakan oleh platform yang ingin mempertahankan ekosistem tertutup, di mana pengguna hanya bisa melakukan transaksi dalam lingkungan digital tertentu. Meskipun tidak sepraktis QRIS dalam konteks lintas platform, sistem ini masih banyak digunakan karena fleksibilitasnya dalam mendesain fitur dan promo internal.
Perbandingan Utama: QRIS vs QR Code Payment
Asal dan Pengembang
- QRIS dikembangkan oleh Bank Indonesia dan ASPI (Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia).
- QR Code Payment bisa dikembangkan oleh siapa saja, baik aplikasi dompet digital, lembaga keuangan, atau perusahaan swasta yang ingin menyediakan metode pembayaran mandiri.
Tujuan Penggunaan
- QRIS bertujuan menyederhanakan sistem pembayaran digital, meningkatkan inklusi keuangan, serta memudahkan interoperabilitas antar aplikasi pembayaran.
- QR Code Payment bertujuan sebagai metode transaksi eksklusif dalam ekosistem tertentu, seperti program loyalti, promo cashback, atau diskon khusus.
Konektivitas dan Integrasi
- QRIS bersifat terbuka dan bisa digunakan oleh seluruh aplikasi yang mendukung QRIS. Misalnya, pengguna DANA bisa scan QRIS di merchant GoPay, dan sebaliknya.
- QR Code Payment bersifat tertutup dan hanya bisa digunakan dalam satu platform aplikasi saja.
Jenis QR Code
- QRIS menyediakan QR statis (jumlah pembayaran ditulis manual) dan QR dinamis (jumlah otomatis sesuai tagihan).
- QR Code Payment juga memiliki format serupa, namun tidak distandarisasi secara nasional, sehingga tidak bisa dipakai lintas aplikasi.
Lebih Efektif Mana untuk Pembayaran?
Keunggulan QRIS
- Universal: Satu QR code bisa digunakan oleh semua dompet digital dan mobile banking yang mendukung QRIS.
- Mudah digunakan: Merchant cukup pasang satu QR saja, tanpa harus terdaftar di semua aplikasi pembayaran.
- Mendukung UMKM: Proses registrasi QRIS cepat dan biaya relatif rendah.
- Transparan dan terpantau: Karena sistemnya diawasi oleh Bank Indonesia, lebih aman dan terstandarisasi.
Kekurangan QRIS
- Butuh koneksi internet stabil: Transaksi bisa tertunda jika jaringan tidak mendukung.
- Kurang fleksibel untuk promo internal: Merchant tidak bisa mengatur promosi spesifik di satu aplikasi.
Keunggulan QR Code Payment
- Fleksibilitas tinggi: Bisa dirancang sesuai kebutuhan bisnis, misalnya sistem diskon otomatis atau loyalty points.
- Promosi terarah: Platform bisa mengatur promo khusus untuk pengguna aplikasinya saja.
- Kompatibel untuk internasional: Seperti Alipay dan WeChat Pay, cocok digunakan di destinasi wisata dengan wisatawan asing.
Kekurangan QR Code Payment
- Terbatas: Tidak bisa digunakan oleh semua aplikasi pembayaran.
- Menyulitkan pengguna: Harus mengunduh banyak aplikasi hanya untuk scan QR berbeda.
Lebih Pilih Mana?
Jawaban atas pertanyaan ini sangat tergantung pada konteks penggunaannya:
- Untuk pengguna umum: QRIS lebih disarankan karena fleksibel, praktis, dan bisa digunakan lintas aplikasi.
- Untuk bisnis besar atau e-commerce: QR Code Payment masih relevan karena memungkinkan pengembangan fitur promosi yang lebih spesifik dan personal.
Contohnya, warung kopi kecil yang ingin menjangkau lebih banyak pelanggan akan sangat diuntungkan menggunakan QRIS. Sementara, sebuah e-commerce besar mungkin lebih memilih QR Code internal untuk program cashback loyalitas khusus.
Kesimpulan
QR Code telah menjadi simbol kemudahan dalam era pembayaran digital. Namun, pemahaman terhadap perbedaan QRIS dan QR Code Payment menjadi penting agar pengguna maupun pelaku usaha bisa mengoptimalkan sistem yang digunakan.
QRIS, dengan dukungan pemerintah dan sifatnya yang universal, cocok untuk memperluas akses keuangan digital di berbagai sektor masyarakat, terutama UMKM dan layanan publik. Di sisi lain, QR Code Payment tetap menjadi pilihan yang kuat dalam sistem tertutup yang ingin membangun ekosistem loyalitas dan promosi internal.
Jika kamu mencari solusi praktis, inklusif, dan efisien, QRIS adalah jawabannya. Namun, jika kamu menjalankan bisnis dengan strategi promosi internal atau memiliki ekosistem aplikasi tersendiri, QR Code Payment tetap layak dipertimbangkan.
Pada akhirnya, kedua sistem ini saling melengkapi dalam ekosistem digital Indonesia. Yang terpenting adalah memilih sistem yang paling sesuai dengan kebutuhan, strategi, dan karakteristik pengguna kamu.